Under Fire (1983): Ketika Kamera Memilih Sisi
Pendahuluan: Sebuah Film yang Lahir dari Darah Nyata
Pada 20 Juni 1979, seorang koresponden ABC News bernama Bill Stewart berjalan mendekati sebuah pos pemeriksaan militer di pinggiran Managua, Nikaragua, dengan tangan terangkat dan kartu pers tergantung di lehernya. Ia berbaring di tanah atas perintah tentara Garda Nasional rezim Somoza. Beberapa detik kemudian, seorang prajurit menendang kepalanya, lalu melepaskan tembakan ke tengkuknya.
Yang tidak disadari para tentara itu: seorang kameraman ABC bernama Jack Clark sedang merekam seluruh kejadian dari dalam kendaraan pers yang diparkir di dekat sana.
Rekaman itu diselundupkan keluar dari Nikaragua, disiarkan di seluruh stasiun televisi Amerika Serikat, dan menggemparkan dunia. Presiden Jimmy Carter segera menarik dukungan AS terhadap rezim Somoza. Kurang dari sebulan kemudian, pada 19 Juli 1979, pemerintahan Anastasio Somoza Debayle runtuh ditumbangkan oleh Front Pembebasan Nasional Sandinista (FSLN).
Itulah benih dari Under Fire, sebuah film thriller politik yang dirilis empat tahun kemudian, pada 21 Oktober 1983, yang menjadikan peristiwa berdarah itu sebagai jantung dari pertanyaan paling fundamental dalam jurnalisme: sampai di manakah seorang wartawan boleh terlibat dengan berita yang ia liput?
Latar Belakang Sejarah: Revolusi Nikaragua 1979
Untuk memahami Under Fire sepenuhnya, perlu dipahami konteks sejarah yang mendasarinya.
Nikaragua di bawah dinasti Somoza adalah negara yang dikendalikan oleh keluarga tunggal selama lebih dari 43 tahun. Anastasio Somoza García berkuasa sejak 1936 dengan dukungan militer AS, dan kekuasaan itu diwariskan kepada putra-putranya.
Korupsi merajalela dan diperkirakan keluarga Somoza menggelapkan sekitar $100 juta per tahun dari kas negara, sementara rakyat hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Front Pembebasan Nasional Sandinista (FSLN), yang didirikan pada 1961 dan terinspirasi oleh revolusioner awal abad ke-20 Augusto César Sandino, membangun kekuatan perlawanan selama bertahun-tahun.
Ketika gempa bumi dahsyat melanda Managua pada 1972 dan bantuan internasional yang mengalir justru diselewengkan oleh Somoza, dukungan rakyat terhadap Sandinista meledak.
Puncaknya terjadi antara 1978–1979, ketika perang saudara terbuka pecah di jalanan kota-kota Nikaragua. Perkiraan korban jiwa berkisar antara 30.000 hingga 50.000 orang sebelum Somoza akhirnya melarikan diri ke Miami pada 17 Juli 1979, dan rezimnya runtuh dua hari kemudian.
Under Fire mengambil setting tepat di momen-momen terakhir yang menentukan itu.
Fakta Produksi
Under Fire adalah film berdurasi 128 menit yang dirilis Lion's Gate Films / Orion Pictures pada 1983 oleh sutradara Roger Spottiswoode, penulis skenario Ron Shelton dan Clayton Frohman, serta produser Jonathan Taplin.
Dengan pemeran utama diantaranya Nick Nolte, Gene Hackman dan Joanna Cassidy. Pemeran Pendukung diantaranya Ed Harris, Jean-Louis Trintignant, Richard Masur. Musik oleh Jerry Goldsmith dan Pat Metheny. Sinematografi oleh John Alcott
Film yang mengambil lokasi syuting di Chiapas dan Oaxaca, Meksiko ini mendapatkan nominasi bergengsi di Oscar (Musik) dan BAFTA (Penyuntingan).
Sinopsis Lengkap
Babak Pertama: Para Jurnalis Tanpa Akar di Chad
Film dibuka di padang pasir Chad, Afrika, di mana pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak sedang berlangsung. Di tengah kekacauan itu, kita bertemu Russell Price (Nick Nolte), seorang jurnalis foto kawakan yang meliput konflik bersenjata selama bertahun-tahun.
Russell adalah sosok yang tampaknya sudah terbiasa dengan kematian dan kekerasan, matanya melihat dunia melalui lensa kamera, bukan melalui hati nurani.
Di sana ia juga berjumpa kembali dengan Oates (Ed Harris), seorang tentara bayaran Amerika yang bekerja untuk pemerintah Chad. Pertemuan itu singkat, tapi Oates dengan sikap pragmatis khasnya menyarankan agar Russell untuk meliput konflik yang lebih "menarik" di Amerika Tengah: Nikaragua.
Malam harinya, para wartawan Amerika di Chad mengadakan pesta perpisahan untuk rekan mereka, Alex Grazier (Gene Hackman), seorang reporter televisi karismatik yang memutuskan untuk meninggalkan liputan konflik dan menerima tawaran menjadi jangkar berita (news anchor) di New York dengan gaji menggiurkan. Alex adalah tipe jurnalis yang tahu kapan harus "menjual diri" kepada kesuksesan komersial.
Namun ada satu kisah terselubung dari peristiwa ini, kekasih Alex, Claire Stryder (Joanna Cassidy) seorang koresponden radio yang cerdas dan berani, menolak ikut ke New York. Claire malah memilih untuk terus meliput berita lapangan, dan penugasan berikutnya adalah Nikaragua.
Demi mempertahankan hubungan, Alex akhirnya memilih menemani Claire ke Managua, sekaligus berharap bisa mendapatkan liputan eksklusif yang bisa mengangkat kariernya.
Namun ada yang tidak diketahui Alex. Russell, sahabatnya sekaligus orang yang paling ia percaya, sedang menjalin hubungan asmara diam-diam dengan Claire.
Babak Kedua: Managua, Kota yang Terbakar
Tiga jurnalis itu tiba di Managua, ibu kota Nikaragua, yang sudah berada di ambang kehancuran. Kota itu menyerupai tubuh yang sekarat dengan dinding berlubang peluru, jalanan berserakan puing, penduduk sipil berlari menghindari tembak-menembak antara Garda Nasional Somoza dan pasukan Sandinista.
Russell, Alex dan Claire bermarkas di sebuah hotel yang kian hari kian sepi ditinggal tamu dan stafnya. Di sini, dinamika segitiga cinta mereka mulai terasa menegangkan, meskipun bukan itu fokus utama film.
Russell mulai berinteraksi dengan warga biasa Nikaragua dan merasakan langsung betapa dalam kebencian rakyat terhadap rezim Somoza. Ia memotret segalanya dengan kamera Leica-nya mulai dari jenazah, anak-anak yang ketakutan, pesta mewah orang-orang kaya di tengah bom yang jatuh.
Tapi sejauh ini, Russell masih memegang teguh prinsip profesionalnya yang ia ucapkan seperti mantra: "I don't take sides, I take pictures" Aku tidak memihak siapapun, aku hanya memotret.
Di sini kita juga bertemu Marcel (Jean-Louis Trintignant), seorang pebisnis Prancis yang ternyata adalah agen intelijen yang bekerja untuk berbagai kepentingan. Marcel menjadi gambaran dari dunia abu-abu di mana mata-mata, tentara bayaran, dan diplomat beroperasi di balik layar konflik.
Marcel fasih berbicara tentang bisnis sambil mengabaikan mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Ia adalah personifikasi dari kepentingan asing yang terus memanfaatkan penderitaan rakyat Nikaragua.
Oates, si tentara bayaran dari Chad, juga muncul kembali di Managua, kali ini bekerja untuk pihak pemerintah dengan pengaruh yang lebih besar, dengan tangan-tangannya memegang tali kekuasaan yang tidak kelihatan namun nyata.
Babak Ketiga: Kematian Alex Jadi Titik Balik
Alex, yang awalnya datang ke Nikaragua dengan semangat profesional namun juga didorong ambisi pribadi, mulai kehilangan arah ketika menyadari bahwa Claire dan Russell semakin dekat.
Ketika ia mendengar bahwa Russell berhasil mendapat akses ke pimpinan Sandinista termasuk kemungkinan bertemu Rafael, pemimpin legendaris yang keberadaannya menjadi teka-teki, Alex memutuskan untuk kembali ke Nikaragua setelah sempat meninggalkan kota.
Dalam perjalanan menemui Russell, Alex dan rombongannya dihentikan di sebuah pos pemeriksaan Garda Nasional. Dalam insiden yang mencerminkan dengan nyaris sempurna pembunuhan Bill Stewart di dunia nyata, seorang prajurit tanpa alasan yang jelas menembak Alex. Semua itu terekam oleh kamera televisi.
Rekaman kematian Alex Grazier disiarkan ke seluruh dunia. Ini menjadi titik balik dramatis dalam kesadaran Russell dan Claire. Kematian sahabat sekaligus mantan kekasih Claire di depan kamera adalah jawaban brutal atas pertanyaan: apa harga dari liputan perang?
Babak Keempat: Keputusan yang Merobek Nurani
Sebelum kematian Alex, Russell sudah menerima undangan misterius dari pimpinan Sandinista untuk mengunjungi markas rahasia mereka dengan iming-iming wawancara eksklusif dengan Rafael, pemimpin revolusi yang legendaris dan misterius.
Russell dan Claire pergi ke sana. Namun sesampainya, kenyataan yang menunggu mereka jauh lebih berat dari yang mereka bayangkan; Rafael telah mati, dibunuh oleh pasukan Somoza. Berita kematian Rafael, jika tersebar, berpotensi menghancurkan moral pasukan Sandinista di saat-saat paling krusial menjelang kemenangan revolusi.
Para pemimpin Sandinista yang tersisa kemudian mengajukan permintaan yang menguncang: mereka meminta Russell untuk memotret jenazah Rafael sedemikian rupa agar tampak seperti masih hidup.
Satu foto. Satu kebohongan visual. Dengan tujuan menyelamatkan revolusi dan ribuan nyawa yang mungkin terbunuh jika moral pasukan runtuh.
Russell menolak. Claire menolak. Tapi kemudian mereka melihat seorang anak kecil Nikaragua, korban kekerasan Garda Nasional, yang memandang mereka dengan mata kosong. Mereka melihat rakyat biasa yang selama bertahun-tahun hidup di bawah cengkeraman rezim brutal.
Akhirnya Russell mengangkat kameranya. Foto itu diambil.
Gambar Rafael "yang masih hidup" dengan para pengawalnya memegang surat kabar bertuliskan "Rafael Telah Gugur" menyebar bagai api melalui jaringan media Amerika dan Nikaragua. Moral Sandinista bangkit kembali. Serangan final dilancarkan.
Babak Kelima: Kemenangan yang Pahit
Revolusi Sandinista menang. Somoza melarikan diri. Rakyat Managua turun ke jalan merayakan kebebasan mereka.
Russell dan Claire ada di tengah kerumunan itu dengan kamera di tangan, namun dengan beban di hati yang tidak bisa diabaikan. Russell telah memenangkan berita terbesar dalam hidupnya, tapi ia kehilangan sesuatu yang lebih besar: integritasnya sebagai jurnalis.
Film diakhiri bukan dengan kemenangan yang berbunga-bunga, melainkan dengan keheningan ambigu.
Dunia merayakan jatuhnya Somoza. Tapi di balik foto-foto yang mengubah sejarah itu, tersimpan kebenaran yang hanya diketahui Russell dan Claire: bahwa salah satu gambar yang paling berpengaruh dalam revolusi itu adalah sebuah kepalsuan.
Karakter dan Arketipe Jurnalistik
Russell : Fotografer yang Kehilangan Jarak
Russell Price adalah arketipe jurnalis foto perang, sosok yang membangun jarak psikologis dengan subjeknya sebagai mekanisme perlindungan diri. Kalimat "I don't take sides, I take pictures" bukan hanya filosofi profesional, tapi juga tameng emosional.
Perjalanannya dalam film adalah perjalanan dari ketidakpedulian menuju keterlibatan. Dari netralitas profesional menuju komitmen moral yang mengancam karier dan integritas. Ia mewakili pertanyaan yang selalu menghantui jurnalis: apakah objektifitas yang dipaksakan sebenarnya adalah bentuk lain dari pengecut?
Alex: Jurnalis di Persimpangan Idealisme dan Ambisi
Alex mewakili godaan yang dihadapi setiap jurnalis ketika karier mulai menawarkan kenyamanan: meninggalkan lapangan yang berbahaya demi kursi anchor yang bergaji tinggi. Ia bukan tokoh jahat, dia hanya manusia biasa yang lelah dan ingin aman.
Ironinya, justru keputusannya untuk kembali meliput berita yang didorong campuran antara ambisi profesional dan kecemburuan pribadi sehingga berujung pada kematiannya di depan kamera.
Claire : Suara Hati Nurani
Claire adalah poros moral dalam film ini. Ia berada di tengah-tengan, antara profesionalisme Russell yang dingin dan ambisi Alex yang manusiawi. Sebagai reporter radio, ia mengandalkan kata-kata dan konteks, bukan gambar, untuk menyampaikan realitas.
Dalam keputusan foto Rafael, Claire tidak hanya pasif, dia turut memikul beban moral atas pilihan yang mereka buat bersama.
Oates: Bayangan Amerika di Dunia Ketiga
Ed Harris memainkan Oates dengan dingin dan efisien, seorang tentara bayaran yang tidak pernah menjelaskan dirinya sendiri karena memang tidak perlu.
Oates adalah representasi dari keterlibatan kepentingan Amerika di konflik-konflik dunia ketiga yang tidak pernah muncul dalam laporan resmi. Ia ada di mana-mana, tapi tidak pernah tercatat di mana pun.
Marcel: Intelijen Tanpa Wajah
Jean-Louis Trintignant dalam perannya sebagai Marcel menghadirkan dimensi yang paling sinik dari film ini. Ia adalah seseorang yang menjual informasi kepada semua pihak, yang tidak memiliki loyalitas kecuali kepada kepentingannya sendiri. Ia berbicara tentang bisnis seperti berbicara tentang cuaca.
Makna Mendalam:
Ada lima tema besar yang ada dalam film ini.
1. Objektivitas sebagai Mitos
Under Fire mempertanyakan satu fondasi terbesar jurnalisme modern: apakah objektivitas sejati itu ada?
Russell Price memulai filmnya dengan yakin bahwa ia bisa berdiri di tengah tanpa memihak. Ia memotret tentara dan pemberontak dengan perlakuan visual yang sama. Tapi setiap pilihan foto adalah pilihan framing, dan setiap framing adalah posisi ideologis yang tidak disadari.
Film ini menunjukkan bahwa objektivitas seringkali adalah ilusi yang nyaman. Ketika kamu menyaksikan anak-anak ditembak di depan matamu, "netralitas profesional" menjadi sesuatu yang terasa seperti pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
Inilah yang para sarjana komunikasi sebut sebagai paradoks objektivitas dalam jurnalisme konflik bersenjata.
2. Foto sebagai Senjata Politik
Keputusan Russell memotret jenazah Rafael seolah masih hidup adalah inti filosofis film ini. Ini bukan hanya tentang satu jurnalis yang melanggar etika, ini adalah pernyataan bahwa gambar memiliki kekuatan mengubah sejarah dan karena itu menjadi rebutan berbagai kekuatan yang berkepentingan.
Film ini terinspirasi dari foto-foto Che Guevara pasca kematiannya pada 1967. Gambar-gambar yang justru memperkuat mitosnya dan memperluas pengaruh revolusinya jauh melampaui batas hidupnya. Sutradara Spottiswoode dan penulis Ron Shelton dengan sadar membangun paralel ini.
Dalam era media sosial sekarang, di mana deepfake dan manipulasi gambar menjadi sesuatu yang mudah dilakukan oleh siapapun, relevansi tema ini bahkan semakin berpengaruh.
3. Kepentingan Asing dalam Konflik Internal
Under Fire berani menempatkan CIA (digambarkan melalui karakter Oates) dan kepentingan geopolitik Amerika sebagai bagian dari masalah, bukan solusi. Ini adalah posisi yang sangat kontroversial pada masanya, mengingat pemerintahan Reagan sedang aktif mendukung pasukan Contra untuk melawan pemerintahan Sandinista yang baru.
Film ini juga mengungkap bagaimana media internasional, khususnya media di Amerika Serikat yang tidak beroperasi dalam ruang hampa. Mereka membawa bias, kepentingan ekonomi dan bingkai ideologis yang mempengaruhi apa yang diliput, bagaimana diliput serta siapa saja yang diperlihatkan sebagai pahlawan atau penjahat.
4. Korban Pertama Perang adalah Kebenaran
Film ini secara eksplisit bermain dengan tagline-nya sendiri: "The First Casualty of War is the Truth" ini adalah sebuah parafrase dari ucapan Senator AS Hiram Johnson pada 1917.
Dalam Under Fire, kebenaran mati bahkan sebelum peluru terakhir ditembakkan, ia mati dalam keputusan-keputusan kecil yang dibuat oleh jurnalis, pejabat, tentara bayaran dan propagandis di kedua sisi.
5. Biaya Psikologis Liputan Konflik
Meski tidak eksplisit dibahas, film ini juga menyentuh ruang psikologis yang kini menjadi subyek penelitian serius: apa yang terjadi pada diri seorang jurnalis yang terlalu lama berada di zona konflik?
Russell Price, dengan sifatnya yang compulsively detached adalah gambaran awal dari apa yang kemudian kita kenal sebagai trauma sekunder atau PTSD pada jurnalis perang.
Inspirasi Nyata: Pembunuhan Bill Stewart
Film ini terinspirasi langsung dari pembunuhan Bill Stewart, koresponden ABC News, pada 20 Juni 1979.
Stewart, 37 tahun, keluar dari kendaraan pers bertanda jelas dengan tangan terangkat, menyerahkan kartu pers resminya kepada Garda Nasional. Ia diperintahkan berlutut, kemudian ditendang, dan ditembak di tengkuknya. Penerjemahnya, Juan Espinoza (26 tahun), juga dibunuh di ruang berbeda di lokasi yang sama .
Kameraman Jack Clark, yang merekam dari dalam kendaraan, berhasil menyelundupkan rekaman itu keluar dari Nikaragua. Rekaman itu disiarkan oleh ABC, NBC dan CBS secara berulang. Jutaan penonton Amerika menyaksikannya dengan syok dan kemarahan.
Presiden Carter menyebut pembunuhan itu sebagai "tindakan barbarisme yang dikutuk semua orang beradab." Dalam beberapa minggu, dukungan AS terhadap Somoza dicabut dan rezimnya runtuh.
Dalam Under Fire, kematian Bill Stewart divisualisasikan melalui kematian karakter Alex Grazier adalah sebuah penghormatan sekaligus peringatan bahwa jurnalisme bisa menjadi profesi yang mematikan secara harfiah.
Pengaruh dalam Dunia Jurnalisme
Salah satu dampak paling terukur dari Under Fire: film ini menginspirasi Yannis Behrakis, jurnalis foto Reuters yang kemudian memenangkan Hadiah Pulitzer, untuk mengejar karier sebagai fotojurnalis. Behrakis sendiri mengakui bahwa menonton film ini mengubah arah hidupnya.
Ini bukan kebetulan belaka. Under Fire adalah salah satu dari sedikit film yang berhasil menggambarkan kerja fotojurnalis dengan presisi teknis yang memadai, mulai dari cara memegang kamera Leica hingga keputusan-keputusan split-second di lapangan.
Film Under Fire adalah bagian dari gelombang film bertema jurnalisme konflik yang muncul di era 1980-an, termasuk The Year of Living Dangerously (1982) - liputan jurnalis di Indonesia era Soekarno, The Killing Fields (1984) - kekejaman Khmer Merah di Kamboja, Salvador (1986) - perang saudara di El Salvador dan Cry Freedom (1987) - jurnalisme di Afrika Selatan era apartheid
Gelombang film jurnalisme ini merefleksikan kesadaran kolektif bahwa jurnalis bukan sekadar pengamat pasif, tapi pelaku aktif dalam drama sejarah, dengan semua konsekuensi moral yang menyertainya.
Debat Etika Jurnalistik yang Abadi
Adegan Russell memotret Rafael yang sudah mati menjadi bahan diskusi abadi di sekolah-sekolah jurnalisme di seluruh dunia. Film ini mengajukan pertanyaan yang tidak pernah punya jawaban mudah: Apakah seorang jurnalis pernah dibenarkan memalsukan berita "demi kebaikan yang lebih besar"?
Sebagian besar kode etik jurnalisme modern termasuk yang dianut SPJ (Society of Professional Journalists) dan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) memberikan jawaban tegas: tidak dan tidak dibolehkan. Manipulasi gambar adalah pelanggaran fundamental yang menghancurkan kepercayaan publik terhadap institusi media.
Tapi Under Fire tidak memberikan jawaban semudah itu. Film ini memperlihatkan bahwa di lapangan, dalam panas dan kepanikan dan empati yang tak terkendalikan lahirlah keputusan-keputusan "etis" yang seringkali tidak sehitam-putih yang diajarkan di ruang kelas.
Paradoksnya, film yang dibuat untuk memperingatkan bahaya manipulasi gambar justru semakin relevan di era di mana manipulasi gambar menjadi alat propaganda massal. Di era deepfake, AI-generated images dan disinformasi yang tersebar di media sosial dalam hitungan detik, pertanyaan Under Fire terasa semakin mendesak:
Siapa yang memegang kamera? Siapa yang menentukan apa yang difoto dan apa yang tidak? Siapa yang memutuskan foto mana yang disebarkan, dan mengapa?
Penerimaan Kritis dan Kontroversi
Pada saat perilisannya, film ini menuai respons yang terbagi. Roger Ebert dari Chicago Sun-Times memberikan tiga setengah dari empat bintang dan menyebutnya sebagai salah satu film terbaik tahun itu. Geoff Andrew dari Time Out menempatkannya sejajar dengan Casablanca dan To Have and Have Not dalam tradisi film romansa di tengah peperangan.
Di sisi lain, Vincent Canby dari The New York Times mengkritiknya sebagai film yang "secara fatal membingungkan" terlalu banyak subplots yang tidak terselesaikan dengan baik.
Kontroversi politiknya lebih tajam: Richard Helms, mantan Direktur CIA, menyebut penggambaran CIA dalam film ini sebagai "sama sekali tidak realistis." Orion Pictures, studio distributor, sempat bimbang dalam mengkomunikasikan film ini.
Riset pemasaran menunjukkan bahwa hanya 12% responden yang tahu Nikaragua dan revolusinya. Akhirnya mereka mempromosikannya sebagai "romantic thriller" untuk memperluas jangkauan penonton.
Film ini hanya meraih $5,6 juta di Amerika Utara, di bawah ekspektasi untuk produksi seharga $8,5 juta. Namun pengaruhnya jauh melampaui angka box officenya.
Catatan Teknis: Keotentikan yang Diperjuangkan
Sutradara Roger Spottiswoode dan penulis Ron Shelton melakukan penelitian mendalam sebelum dan selama produksi: mengunjungi Nikaragua, mempelajari sejarahnya dari buku dan dokumenter, serta mewawancarai puluhan jurnalis yang meliput konflik tersebut. Fotografer perang terkenal Susan Meiselas, yang menghasilkan buku foto ikonik Nicaragua (1981), diakui sebagai salah satu sumber inspirasi.
Film ini tidak hanya meminjam estetika visual, mereka juga berusaha merekonstruksi cara wartawan bekerja di lapangan dengan akurasi teknis. Kamera Leica yang digunakan Russell Price adalah peralatan standar fotojurnalis profesional era itu. Cara ia memotret, memilih sudut, dan bereaksi terhadap kekerasan mendadak digambarkan dengan realisme yang jarang ada dalam film Hollywood.
Sinematografi John Alcott yang lebih dikenal karena kolaborasinya dengan Stanley Kubrick dalam Barry Lyndon dan The Shining sehingga menghadirkan visual yang kasar dan hidup, seperti benar-benar diambil di tengah peperangan.
Refleksi untuk Jurnalis Indonesia
Under Fire memiliki resonansi yang sangat relevan bagi jurnalis Indonesia, khususnya mereka yang meliput konflik dan ketidakstabilan di wilayah-wilayah seperti Papua, Kalimantan, Maluku, Sulawesi Tengah dan Aceh di masa lalu.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan film ini tentang batas antara melaporkan dan terlibat, tentang tekanan dari berbagai kepentingan terhadap jurnalis lokal maupun asing, tentang harga yang harus dibayar untuk keberanian meliput kebenaran adalah pertanyaan yang tidak asing bagi wartawan Indonesia.
Rezim Somoza yang menuduh jurnalis asing sebagai "bagian dari jaringan propaganda komunis" di hari sebelum pembunuhan Bill Stewart memiliki paralel yang mengganggu dengan berbagai narasi yang pernah digunakan di berbagai belahan dunia untuk melegitimasi kekerasan terhadap jurnalis.
Di era sekarang, ketika jurnalisme warga dan media sosial mengaburkan batas antara reporter dan partisipan, dilema yang dihadapi Russell Price terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari setiap orang yang memegang ponsel berkamera di tengah sebuah peristiwa.
Under Fire bukanlah film sempurna. Kritik tentang terlalu banyaknya subplot yang tidak terselesaikan, tentang revolusi rakyat Nikaragua yang seolah hanya menjadi latar belakang drama cinta tiga orang Amerika, semua itu adalah kritik yang sah.
Tapi film ini bertahan dalam kesadaran kolektif bukan karena kesempurnaannya, melainkan karena pertanyaan yang ia tinggalkan tanpa jawaban.
Russell Price memotret jenazah Rafael agar tampak hidup. Foto itu membantu memenangkan revolusi. Tapi apakah itu membenarkan tindakannya? Apakah "kebaikan yang lebih besar" cukup untuk menebus pelanggaran terhadap kebenaran?
Empat puluh tahun setelah dirilis, di dunia yang dipenuhi deepfake, propaganda algoritmik, dan "fakta alternatif", Under Fire terasa seperti peringatan dini yang datang terlalu cepat dan tidak cukup didengarkan.
Mungkin sudah waktunya kita menontonnya lagi, bukan sebagai film tentang Nikaragua 1979, tapi sebagai cermin untuk melihat jurnalisme kita sendiri hari ini.
.jpg)